Yuk, Kenali SLB

SLB merupakan dunia sepi, dunia yang hanya sedikit orang yang tertarik dan ingin tahu. Hanya mereka yang berkepentingan saja yang mengenal dunia ini. Mereka adalah pendidik SLB, wali murid atau pedagang keliling yang mangkal di SLB.SLB (Sekolah Luar Biasa) merupakan sekolah yang menyelenggarakan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK/ PLK), Peserta didiknya, disebut anak berkebutuhan khusus (ABK). Anak berkebutuhan khusus sendiri ada 15 jenis yaitu : (A) Tunanetra, (B) Tunarungu, (C) Tunagrahita, (D) Tunadaksa, (E) Tunalaras, (F) Tunawicara, (G) Tunaganda, (H) HIV/ AIDS, (I) Gifted, (J) Talented, (K) Kesulitan Belajar, (L) lambat belajar, (M) Autis, (N) Narkoba dan (O) Indigo.Tidak semua ABK dapat disekolahkan di SLB, karena SLB yang ada di Indonesia baru Bagian A, B, C, D, dan E, untuk ABK diluar bagian itu ditangani pihak lain. Seperti anak korban narkoba, biasanya ditangani dinas sosial.Seperti sekolah pada umumnya, SLB memiliki jenjang dari TK, SD, SMP dan SMA. Bedanya terdapat penambahan istilah luar biasa sehingga menjadi TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB. Tidak berhenti sampai disini, SLB ternyata lebih bervariasi untuk ketunaannya, sehingga ada TKLB Bagian A, B, C, D, E, demikian juga jenjang diatasnya.Apakah pembelajaran di SLB sama dengan sekolah regular ? Mari kita cermati.Pertama dari kurikulumnya, di SLB berlaku kurikulum 2013. Kompetensi dalam kurikulum SLB dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).Kedua, Metode pembelajaran. Metode yang digunakan di SLB sama dengan sekolah reguler, ada metode ceramah, tanya jawab, task analisis, modelling, dan lain-lain.Lalu, dimana perbedaan SLB dan sekolah reguler?, Tentu saja pada peserta didiknya.Karena peserta didik SLB memiliki keterbatasan, baik penglihatan, pendengaran, intelegensi maupun emosinya, maka kegiatan belajar mengajar di SLB harus menerapkan :1. Duplikasi, yaitu meniru pembelajaran di sekolah reguler.2. Modifikasi, artinya meniru pembelajaran disekolah reguler dengan memodifikasi beberapa bagian agar tepat diterapkan dengan karakteristik peserta didik.3. Substitusi, yaitu mengganti materi, media atau strategi.4. Omisi, merupakan langkah menghilangkan materi.Nah, sudah kenalkah dengan SLB?

rumahmediagrup/srisuprapti

One comment

  1. Memang untuk penguasaan materi untuk tuna grahita terutama yang IQnya dibawah 50 tidak ada target waktu. Akan tetapi anak harus mempunyai ketrampilan menolong dirinya sendiri yang harus dikuasai dari tahap awal sampai tahap akhir dari setiap satuan
    ketrampilan,sebagai contoh satuan ketrampilan memakai sepatu = 1.mengenal sepatu, 2. Mengetahui sepatu digunakan dibagian apa dari tubuh manusia, 3. Tahu bagian dari sepatu,dan tahu bahwa sepatu ada dua pasang kiri dan kanan 4. Ketrampilan memakai sepatu di kaki kiri dan kanan.5. dan seterusnya.
    Ketrampilan itu harus dikuasai dulu atau sdh trampil dulu baru pindah ke tahap berikutnya. Kalau tahap awal belum dikuasai masuk tahap berikutnya akan bermasalah .
    Lihat ini
    Mengenal sepatu
    1 1. 1. 1
    2. 2. 2. 2
    3. 3. 3. 3
    4. 4. 4. 4
    5. 5. 5. 5
    Apa bila dalam 5x berturut – turut peserta didik bisa menunjuk sepatu dgn tepat berarti anak sdh menguasai kalau belum diajari lagi dan diperintan menunjukkan sampai 5x tidak pernah salah. Baru tahap kedua diajarkan ampai tuntas dan peserta didik ahli dalam melakukan
    satuan ketrampilan tersebut. Terimakasih

Comments are closed.