Catatan Kecil : Pasar Tradisional Wadah Entrepreneur (2)

Catatan Kecil : Pasar Tradisional Wadah Entrepreneur (2)

Memulai suatu usaha mandiri walaupun skala kecil itu tidak mudah. Bukan semudah seperti membalik tangan atau layaknya cerita sinetron yang sekejap saja menjadi orang kaya.

Semua melalui proses yang melibatkan emosi, mulai dari was-was tidak ada pembeli yang tertarik hingga saingan dari penjual lainnya.

Di pasar tradisional banyak penjual yang serupa barang dagangannya. Tidak ada monopoli di sini. Sebelah menyebelah belum tentu menjual produk berbeda, bisa jadi dalam satu lorong hanya penjual sayur saja atau penjual daging saja. Biasanya oleh pengelola pasar, lokasi dibagi berdasarkan barang yang dijual untuk memudahkan pembeli saat mencari barang yang ingin dibeli.

Bersyukurlah, penjual pemula seperti saya mendapat tempat yang cukup strategis di pasar. Lokasinya merupakan jalur ke arah stand penjual daging, tentu banyak orang yang akan lewat. Tetangga sebelah menyebelah beragam jualannya. Ada penjual sayur mayur dan sembako, penjual pisang dan umbi-umbian, penjual kebutuhan upacara, bahkan penjual baju bekas.

Lapak yang kudapat  ini berada di pasar yang baru dibangun di atas tanah seluas 40 are. Ada 50 kios dan 240 lapak los. Kutempati satu los saja untuk masa 15 tahun. Bersyukur pasar mendukung program pasar bersih untuk kenyamanan berbelanja.Kotor dan bau selalu diminimalisir.

Anak-anak pun bisa berjalan sendiri seperti jalan-jalan di pasar modern atau swalayan. 

Awal buka rasanya mau cepat-cepat lengser saja. Sepi pembeli, hanya dilirik saja dagangannya. 

Bersyukur di sana masih tercipta rasa persaudaraan. Dukungan untuk terus mencoba selalu diberikan oleh penjual yang sudah berpengalaman.

“Ayo Bu, pokoknya empat bulan pertama jangan pernah tutup lapaknya.”

Jatuh bangun karena hasil tidak sesuai ekspektasi, membuat perasaan juga maju mundur untuk tetap meneruskan langkah. Kalau ingat lagi nasehat untuk tetap berusaha selama empat bulan pertama, langsung semangat lagi.

Buka setiap hari dan selalu belajar dari kesalahan baik penataan barang, jenis barang, hingga cara melayani pembeli, akhirnya tahu pola apa yang mampu menarik pembeli. 

Walaupun berjualan di pasar tradisional, bukan berarti kita berjualan asal saja. Pembeli sekarang selektif memilih tempat berbelanja. Bersih, dagangan tertata rapi, penjual yang ramah apalagi saat tawar menawar, menjadi nilai tambah untuk menarik pembeli.

Alhamdulillah, rahmat Allah selalu beserta orang-orang yang ikhtiar. Usaha perlahan-lahan mulai terlihat arah dan hasilnya. Keluarga cukup terbantu perekonomiannya selain dari gaji suami. Selain itu, waktu luang menunggu kepulangan suami serta anak-anak terisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

Banyak keseruan yang terjadi di pasar sehari-hari. Hadir di catatan kecil berikutnya….

rumahmediagrup/hadiyatitriono