Jilbab

Siang itu, mentari bersinar sangat terik. Rasanya seakan memanggang kepalaku yang sedang berjalan pulang ke rumah. Ingin rasanya segera sampai karena panasnya begitu menyengat. Kupercepat langkahku agar segera sampai, sambil sesekali kucari rindangan pohon tempatku berlindung dari panasnya.

Sampai di rumah kulihat ada seorang perempuan sedang duduk di ruang tengah. Rupanya sahabatku sedang menunggu kedatanganku. Katanya tadi juga ada beberapa temanku yang lain ikut menjengukku. Sejak pulang kuliah mereka langsung ke sini. Dengan tujuan mau menjengukku karena sudah dua hari aku tidak kuliah. Oh, sahabat-sahabatku, kalian memang baik sekali padaku mau menjengukku mereka mengira aku sakit, karena aku ga kuliah tanpa kabar. Dan apa yang mereka dapati, ternyata aku ga ada di rumah. Aku malah pergi ke tempat kursus menjahit. Ya, aku memang ikut kursus menjahit sambil kuliah. Tapi tidak mengganggu jadwal kuliah karena jadwal kuliahku hampir setiap hari jadwalnya siang. Hanya hari Sabtu dan Minggu yang ada jadwal pagi karena dosennya dari kopertis.

”Hai ! udah lama ya?” sapaku kepada sahabatku.

“Udah dari pagi, tadi ada teman-teman yang lain juga ikut. Anis, Elin, Tri juga.” Jawabnya.

“Oh yaaa. Mana mereka ?” tanyaku.

“Udah balik lagi, lama nunggu kamu.” Jawab sahabatku

“Oooh kasian juaga kelamaan nunggu.” Kataku lagi

“ Iya, soalnya mereka katanya ada acara yang lain lagi “ Sahabatku menjelaskan. Kemudian dia bertanya lagi kepadaku.

“ Sebenarnya kamu kenapa sih Neng? Ga kuliah udah dua hari. Aku kira kamu sakit eh…pas ditengok malah ga ada”. Tanya Rini sahabatku.

Dia selalu memanggilku seperti itu, sama dengan ayah ibuku jika memanggilku. Dia memang sudah dekat denganku sejak pertama kali kami bertemu di kampus saat ospek. Dan sampai sekarang jadi teman dekat.

“Gpp ko Rin, cuma pingin istirahat aja”. Jawabku. 

“Ya tapi kan ga harus bolos kuliah segala, ayolah cerita. Aku yakin pasti ada apa-apa. Soalnya kamu anak rajin ga mungkin sampai bolos kuliah kalau bukan karena sakit”. Dia merajuk. 

Sobatku ini emang pandai kalau buat mancing-mancing orang agar bercerita. Akhirnya walaupun aku berusaha menutupi masalahku,  karena sahabatku ini pandai sekali dalam merayu,  akupun luluh juga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Begini, kemarin kan aku kuliah pake jilbab. Sudah lama sekali sebenarnya aku pingin pakai jilbab. Tapi mama melarangku. Malah dia berburuk sangka padaku”. Aku mulai bercerita. 

“Maksudnya berburuk sangka bagaimana? ” Tanyanya penasaran.

“Mama malah mengira bahwa aku pakai jilbab karena disuruh seseorang. Laki-laki yang menyukaiku”. Aku menjelaskan.

“Emang siapa laki-laki itu?” Dia malah tambah penasaran. 

“Ga ada,  dia cuma temen aja kok”. Jawabku

Lalu kuceritakan semuanya. Sebenarnya keinginanku berjilbab sudah lama. Tapi aku masih banyak pertimbangan. Sehingga ketika aku mulai mencoba untuk mengenakannya tantangan justru datang dari mamaku sendiri. Katanya belum waktunya saya berjilbab nanti saja kalau udah menikah.  Malah mama menuduh aku berjilbab karena disuruh seseorang.  Padahal sama sekali tidak.  Mengapa mama menuduh demikian?  Itu karena mama tahu dari sodaraku bahwa ada seorang pemuda yang mengirim surat padaku dan naksir padaku. Pemuda itu adalah teman SMP ku dulu. Sekarang dia sering ketemu aku di tempat aku mengaji di pesantren. Ya meski aku kuliah tapi kalau malam aku ikut mengaji di pesantren itu. Orang biasa menyebutnya santri kalong. Mungkin karena sesuatu hal dia tertarik kepadaku, entahlah.

Ketika dia berkirim surat padaku mama mengira aku membalas maksud hatinya. Padahal sebenarnya aku membalas biasa saja. Aku ga mungkin berkata secara blak-blakan menolaknya. Aku ga mau menyakiti hatinya. Lagi pula dia masih ada hubungan sodara dengan ayah. 

Setelah kujelaskan panjang lebar, akhirnya sahabatku paham.  Dan dia pun memberi nasehat padaku agar aku mengikuti keinginan mama saja. 

“Ya udah sekarang mah mending kamu ikutin aja keinginan mama.  Nanti aja pakai jilbabnya kalau benar-benar sudah saatnya”.

“Tapi aku malu,masa harus buka lagi. Sebenarnya aku benci sama mama, jadi aku bolos kuliah”. Kataku

“Iya, tapi kamu tak perlu sampe bolos kuliah segala,  kamu yang rugi”. Sahabatku menyarankan. 

“Iya,  besok aku kuliah lagi”. Jawabku singkat.

Sebenarnya aku sudah merasa nyaman berjilbab namun hatiku jadi dilema. Apalagi orang yang kusuka di kampus sepertinya senang melihat aku berjilbab. Lalu bagaimana nanti kalau dia melihatku melepaskanya lagi. Aku tak peduli pandangannya. Biarlah sementara ini mungkin aku belum diberi hidayah. Aku tak mau membangkang mamaku. 

Besok aku akan kembali masuk kuliah lagi setelah beberapa hari absen sebagai tanda protesku sama mama. Dan teman-teman pasti heran mengapa cuma beberapa hari saja aku mengenakan jilbab. Aku tak kan mempedulikannya. Semoga saja mereka paham, aku dilanda dilema. Aku lebih memilih disayang keluarga karena mama belum ridha anaknya berjilbab. Hanya Tuhan yang tahu apa yang ada di hatiku yang sebenarnya.

sumber foto : kumpulankartunhd.blogspot.com