Menelusuri Jalan Pikir H.O.S Tjokroaminoto (1) : Gelar Karpet Merah Kecerdasan

sumber gambar : http;//wikipedia.com

Menelusuri Jalan Pikir H.O.S Tjokroaminoto (1) : Gelar Karpet Merah Kecerdasan

Tulisan ini saya tuliskan kembali sebagai naskah pembanding buku “ Syarah Sejarah Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto”, sebuah karya tetralogi para Penata Aktivis Peneleh (Novrida Q Lutfillah, Elana E. Yudita, Ahmad Fauzi, Iskandar E. Asmuni, Liyennur R.P.T.D Kumara, Ibnu Syifa, dan Hendra Jaya). Dari judulnya saja, menarik untuk di baca. Adapun syarah tersebut secara sederhana diartikan sebagai tafsir. Jadi, sekilas buku ini memiliki isi terkait tafsir para penulis pada pemikiran H.O.S Tjokroaminoto (Pak Tjokro). Naskah pembanding ini saya akan tuliskan dalam beberapa seri sub judul, dan sudah disampaikan pada Bedah buku, awal maret lalu.

Masing-masing penulis memberikan refleksi dan syarah atas pemikiran pak Tjokro. Sangat menarik, penulis muda berbakat. Jarang sekali penulis muda menulis tema-tema kebangsaan, tokoh ataupun histori dari pahlawan. Banyak penulis muda masih sibuk dengan menulis tema romance. Buku ini menjadi petunjuk baru bahwa yang muda juga menyukai sejarah. Good job !

Dengan keberanian pemikiran “kekinian” yang dihadirkan, sebenarnya para penulis telah menggelar karpet merahnya masing-masing. Kenapa demikian? Karena mereka telah berhasil mengenali jati diri mereka, dengan apapun caranya. Kemampuan menelaah semua peristiwa di masa lalu pada seseorang, sebenarnya memudahkan mereka untuk menemukan jati dirinya. Yaitu jati diri yang terbentuk dari beberapa keyakinan, cerminan perilaku orang tua, menggambarkan potensi diri dalam berpikir, merasakan kemistri “dirinya” dengan lingkungan yang mereka pilih. Kenyamanan jiwa yang mereka peroleh dan akhirnya terpola pada “kerja” aktivitas tertentu yang mereka lakukan. 

Setiap orang, sebagai bakat, hanya memiliki bahagia yang menjadi tujuannya. Apapun bakatnya, apapun kecerdasannya, mereka memilih melakukannya dengan bahagia, dan melakukannya hanya untuk bahagia. Betul kan?

Sejatinya, banyak para ahli mendefinisikan dan membedakan apa itu kecerdasan. Saya melihat kecerdasan berdasarkan pembagian cara kerja otak. Dikemukakan oleh Farid Poniman, penulis buku Kubik Leadership dan buku DNA sukses mulia. Beliau menemukan kecerdasan yang sejalan dengan cara kerja otak, membagi kecerdasan menjadi Stifin (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting). Dan ada juga ahli Dr. Howard Gardner yang membedakan kecerdasan dengan 9 kecerdasan (interpersonal, intrapersonal, Imajinasi konseptual, rasional logika, kinestetik, musik, linguistik, spasial, natural). Tetapi saya tidak membahas hal ini lebih lanjut, karena  otak memiliki kemampuan untuk mengubah organisasi fungsionalnya sebagai akibat dari pengalaman.  Jadi, kecerdasan yang dibawah secara fitrah, akan dikuatkan oleh pengalaman. Apapun kecerdasan yang dimiliki oleh penulis, disajikan dalam paragraf-paragraf sudah menggambarkan sebuah kemampuan tertentu.

Fokus pada konsep pemikiran telah menjelaskan bekerjanya mesin kecerdasan. Hal ini dibuktikan atas uraian pada syarah pemikiran pak Tjokro. Tidak mudah memahami pemikiran tokoh besar dalam benak yang “kecil” dan sedang tumbuh. Saya sebut “kecil” karena diantara mereka hanya bermodalkan referensi, tetapi rasa yang dihadirkan sangat “besar”. Keberanian untuk hadir dalam dunia penulisan dengan tema unik itu sangat membutuhkan keberanian. Hebat! Berani memilih berdasarkan keyakinan yang terbentuk sebelumnya. Semoga istiqomah.

Semua orang bisa menuliskan? Membaca? Menghitung? Hampir semua orang bisa. Tetapi apakah mereka semua memiliki keberanian menuliskan semua ide? Jawabannya tidak selalu. Maka jangan latah untuk memilih apapun yang akan dilakukan. Terbentuknya konsep pemikiran setiap orang memiliki jalan yang panjang, berliku, menyedihkan, menyenangkan, bimbang, ragu, bahkan bisa jadi putus asa. Masing-masing berbeda. Begitu juga dengan para penulis yang memiliki perbedaan “jalan”, tetapi telah memilih keputusan yang sama.

Karpet merah telah digelar, masih panjang tapi sudah dimulai. Membutuhkan waktu untuk berjalan, tapi tak tahu batasnya ada di mana. Lakukan yang terbaik, ikuti saja kata hati, teruslah berkarya. Tumbuhlah dalam habitat yang dapat melejitkan kecerdasan. Dan juga mencintai Tuhan.

Semoga bermanfaat

referensi :

pemikiran ini berasal dari naskah banding atas buku Syarah Sejarah Pemikiran H.O.S Tjokroaminoto, Peneleh Publisher.

George Vallant, 1977. Adaptation to life. New York.

Howard Gardner. 1993. Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelengence. Basic Book: New York.

Palil, Nafik. 2015. Menyiapkan Ananda Menjadi Sang Juara Kehidupan. The Naff Publishing: Sidoarjo.

Poniman, Farid. 2010. Stifin Personality, Mengenali Cetak Biru Hidup Anda. PT. Stifin Fingerprint. Jakarta.

rumahmediagrup/Anita Kristina