Mengenal Benjang, Perpaduan Beladiri dan Kesenian

Mengenal Benjang, Perpaduan Beladiri dan Kesenian

Saat mendengar nama Bandung, yang langsung terbayang di dalam benak kebanyakan orang adalah beragam kuliner. Kemudian berbagai tempat wisata khas yang selalu dipadati wisatawan saat liburan. Beberapa kesenian tradisional yang sudah tersohor seperti Angklung dan Jaipong misalnya, turut menjadi ciri khas yang lekat dengan nama Bandung.

Tak banyak yang tahu, di samping seni budaya yang telah akrab di telinga warga luar Bandung, kota ini masih menyimpan banyak tradisi yang juga perlu dijaga kelestariannya. Salah satunya adalah ‘Benjang’. Saya sendiri baru mengenal Benjang sejak resmi menjadi warga Bandung, khususnya setelah bermukim di wilayah Bandung Timur.

Bagi kami yang tinggal di daerah sekitaran Bandung Timur, Benjang merupakan salah satu tontonan yang seringkali ditunggu-tunggu. Terutama saat akhir pekan. Begitu juga pada sebuah hajatan.

Benjang adalah jenis kesenian tradisional Indonesia yang memadukan seni dan beladiri. Kesenian ini berkembang di Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung. Benjang sudah berkembang sejak abad ke-19.

Awal mula seni Benjang lahir dari ilmu bela diri tradisional Indonesia. Namun karena pada masa itu kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda melarang semua jenis ilmu beladiri untuk menghindari adanya pemberontakan, maka secara sembunyi-sembunyi Benjang dikemas dalam bentuk sebuah kegiatan kesenian. Tujuannya agar dapat dipelajari dan terus diwariskan turun-menurun tanpa sepengetahuan pemerintah Hindia Belanda.

Maka selain sebagai ilmu beladiri, Benjang juga berkembang sebagai seni pertunjukan rakyat, yang biasanya diadakan dalam rangka upacara khitanan, perkawinan, memperingati 40 hari kelahiran bayi, maulid nabi, syukuran panen padi dan lainnya. Hingga saat ini kesenian Benjang mengalami perubahan baik dari segi bentuk, fungsi, maupun makna pertunjukan. Benjang saat ini terbagi menjadi 3 bagian bentuk kesenian.

Yang pertama adalah Benjang gelut atau gulat, yaitu seni beladiri yang menjadi awal terbentuknya seni Benjang. Kesenian benjang gulat sedikit mirip dengan olahraga tradisional asal Jepang, yakni Sumo. Namun keunikan benjang gulat terletak pada ibingan atau tarian yang dilakukan sebelum memulai bergulat.

Yang kedua adalah Benjang Helaran, yaitu kesenian berbentuk arak-arakan yang dimainkan secara kelompok. Lain benjang gulat, lain pula benjang helaran. Seni ini menampilkan arak-arakan bangbarongan, kuda lumping, dan jampana.

Tak hanya itu, benjang helaran juga tak jarang dipadu padankan dengan kesenian kuda renggong dan rajawali untuk memeriahkan arak-arakan. Dalam seni Benjang helaran terdapat unsur mistis dalam budaya masyarakat Ujungberung. Diibentuk sebagai penggambaran kekuatan alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton yang melihat pertunjukan tersebut. Iringan musik tradisional juga turut mewarnai kesenian benjang ini.

Yang ketiga, Benjang Topeng. Seni pertunjukan tari topeng yang merupakan penggabungan dari unsur tari topeng priangan, wayang golek, dan unsur gerak seni Benjang Gulat. Menjadikan kesenian ini tidak memiliki pola tarian dan menjadi berbeda dari seni tari lainnya yang sejenis.

Hal yang lebih menarik lagi dalam Benjang Helaran yakni ketika beberapa orang dari rombongan Benjang mengalami kesurupan. Hal tersebut tak ayal membuat kesenian ini semakin ramai untuk dipertontonkan. Namun sayangnya, dalam pertunjukan Benjang seringkali ternodai dengan perkelahian di antara penonton dari kalangan anak muda yang mengikuti arak-arakan. Arak-arakan yang berjalan di sepanjang jalan-jalan kecil di Bandung Timur juga kerapkali menimbulkan kemacetan, sehingga membuat sebagian orang memandang miring terhadap kesenian Benjang ini.

Harapannya, Benjang dapat terus dilestarikan, diwariskan secara turun-temurun dengan mengedepankan aspek-aspek positifnya. Meminimalisir sisi-sisi negatif yang masih sering bermunculan dalam setiap pertunjukan Benjang. Sehingga ke depannya Benjang akan semakin dicintai, bukannya dibenci.

DAFTAR PUSTAKA :
• Anonim. BAB I PENDAHULUAN. https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/651/jbptunikompp-gdl-alfindwian-32514-9-unikom_a-i.pdf. Diakses 1 Oktober 2019 pukul 17.26 WIB.
• Fatubun, Andres. 2018. Kenali Jenis Kesenian Benjang. https://m.ayobandung.com/read/2018/10/20/39428/kenali-jenis-kesenian-benjang. Diakses 1 Oktober pukul 17.31 WIB.
• Delia. 2015. Seni Benjang Bandung. https://www.pariwisatabandung.info/seni-benjang-bandung/. Diakses 1 Oktober 2019 pukul 17:37.

Sumber Gambar :
– ayobandung.com
– pariwisatabandung.info

Ditulis ulang dan disunting seperlunya dari :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157928496337847&id=748347846

rumahmediagrup/arsdiani