Penelitian Naratif

sumber gambar : http://www.google.com

Penelitian Naratif

Penelitian naratif memiliki banyak bentuk, menggunakan berbagai praktik analitik, dan berakar pada berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora.  Narasi dapat diartikan sebagai istilah yang diberikan untuk teks apa pun atau wacana atau mungkin teks yang digunakan dalam konteks penyelidikan dalam penelitian kualitatif. Fokus dikhususkan pada cerita yang diceritakan oleh individu.

Narasi dapat menjadi metode dan juga sebagai pendekatan dalam sebuah fenomena. Jika diartikan sebagai metode, maka dimulai dengan pengalaman seperti yang diungkapkan dalam cerita hidup dan diceritakan oleh individu. Para penulis/peneliti telah menyediakan cara untuk menganalisis dan memahami cerita hidup dan diceritakan informan tersebut. Sehingga banyak ahli mendefinisikan bahwa narasi di sini diartikan sebagai jenis penelitian kualitatif tertentu.

Desain penelitian narasi dipahami sebagai pemberian teks lisan atau tulisan suatu peristiwa atau tindakan atau serangkaian acara atau serangkaian tindakan, secara kronologis saling terhubung. Prosedur untuk implementasi dalam penelitian ini terdiri dari fokus pada belajar memahami data yang dikumpulkan dari satu atau dua orang yang diambil melalui sebuah cerita, melaporkan pengalaman individu, dan secara kronologis menggunakan tahapan kehidupan informan sebagai data.  Dengan demikian, data yang dimaksud adalah pengalaman informan yang telah diceritakan pada peneliti.

Meski penelitian naratif juga berasal dari literatur, sejarah, antropologi, sosiologi, sosiolinguistik, dan pendidikan, dan berbagai bidang studi tetapi penelitian naratif telah mengadopsi naratif sebagai pendekatan mereka sendiri. Misalnya naratif dalam pendekatan postmodern, orientasi organisasi, perspektif perkembangan manusia, pendekatan psikologis, pendekatan sosiologis dan bahkan naratif dalam penelitian kuantitatif (misalnya  cerita statistik dalam pemodelan sejarah sebuah peristiwa) dan pendekatan kualitatif. Upaya interdisipliner dalam penelitian naratif juga telah didorong oleh seri tahunan Narrative Study of Lives yang dimulai pada tahun 1993, dan banyak dijumpai pada jurnal Narrative Enquiry. Dengan perkembangan penelitian naratif, maka memang banyak yang membahas narasi peneliti dalam beberapa pendekatan penelitian. Apa yang dilakukan peneliti dalam narasi penelitiannya? Pertanyaan inilah yang muncul dalam setiap pendekatan penelitian manapun.

Bagaimana jenis penelitian naratif? Salah satu pendekatan untuk penelitian naratif adalah untuk membedakan jenis narasi penelitian dengan strategi analisis yang digunakan oleh peneliti. Polkinghorne mengambil pendekatan ini dan membedakan antara “analisis narasi” dengan menggunakan pemikiran paradigma untuk membuat deskripsi tema yang dimiliki lintas cerita atau taksonomi jenis cerita, dan analisis naratif. Kemudian peneliti mengumpulkan deskripsi peristiwa atau kejadian dan kemudian mengkonfigurasi mereka menjadi sebuah cerita menggunakan alur cerita.

Selanjutnya menyajikan pendekatan yang sangat dekat dengan analisis narasi. Peneliti dapat menggunakan alasan paradigmatik untuk sebuah penelitian naratif. Seperti bagaimana individu dimungkinkan dan dibatasi oleh sumber daya sosial? Terletak secara sosial dalam sebuah interaktif, dan bagaimana narator mengembangkan interpretasi atas interaksi tersebut?.

Pendekatan kedua adalah untuk menekankan berbagai bentuk yang ditemukan dalam narasi penelitian. Misalnya penelitian biografis yakni suatu bentuk penelitian naratif di mana peneliti menulis dan mencatat pengalaman hidup orang lain. Autobiografi ditulis dan direkam oleh individu yang merupakan subjek penelitian. Kehidupan sejarah menggambarkan seluruh kehidupan individu, sementara kisah pengalaman pribadi adalah penelitian naratif tentang pengalaman pribadi seseorang yang ditemukan dalam satu atau beberapa episode, situasi pribadi, atau cerita rakyat komunal.  Sejarah lisan terdiri dari mengumpulkan refleksi pribadi dari peristiwa dan sebab dan atau akibatnya dari satu individu atau beberapa individu.

Penelitian naratif dapat memiliki fokus kontekstual tertentu, seperti guru atau anak-anak di ruang kelas atau cerita yang diceritakan tentang organisasi. Naratif mungkin dipandu oleh lensa atau perspektif teoritis. Lensa dapat digunakan untuk advokasi melalui penggunaan. Ada juga terdapat istilah lensa feminis yang digunakan untuk melaporkan kisah-kisah wanita. Sebuah lensa yang menunjukkan bagaimana suara wanita diredam, berganda, dan bertentangan?

Prosedur untuk melakukan penelitian naratif dapat menggunakan pendekatan yang diambil dari pemikiran Clandinin dan Connelly sebagai panduan prosedural. Sedangkan metode dalam melakukan penelitian naratif tidak mengikuti pendekatan langkah kunci. Tetapi sebaliknya yakni mewakili koleksi topik informal.

Langkah-langkah prosedural penelitian naratif yaitu pertama, tentukan apakah masalah atau pertanyaan penelitian paling cocok dengan penelitian naratif. Penelitian naratif paling baik untuk mengabadikan cerita atau kehidupan yang terperinci dari  pengalaman hidup tunggal atau kehidupan sejumlah individu dalam kelompok kecil. Kedua, pilih satu atau lebih individu yang memiliki kisah atau pengalaman hidup untuk menceritakan, dan menghabiskan banyak waktu dengan mereka,  mengumpulkan cerita mereka melalui perolehan banyak informasi. Cerita sebagai “teks lapangan.” Peserta penelitian dapat merekam cerita mereka dalam jurnal atau buku harian, atau peneliti dapat mengamati individu dan mencatat sebagai catatan lapangan. Peneliti juga dapat mengumpulkan surat yang dikirim oleh individu, mengumpulkan cerita tentang individu dari anggota keluarga, kumpulkan dokumen semacam itu sebagai memo atau korespondensi resmi tentang individu tersebut atau memperoleh foto, dan lainnya. Setelah memeriksa sumber-sumber ini, peneliti mencatat pengalaman hidup individu.

Ketiga, kumpulkan informasi tentang konteks cerita-cerita ini. Peneliti menempatkan cerita individu dalam pengalaman pribadi peserta (pekerjaan mereka, rumah mereka), budaya mereka (ras atau etnis), dan sejarah mereka (waktu dan tempat). Keempat, menganalisis cerita, dan kemudian “mengembalikannya” menjadi kerangka kerja yang masuk akal. Restory adalah proses menata ulang cerita menjadi beberapa jenis kerangka kerja umum. Kerangka kerja ini dapat terdiri dari mengumpulkan cerita, menganalisisnya untuk elemen kunci dari cerita (misalnya, waktu, empat, plot, dan adegan), dan kemudian menulis ulang cerita untuk menempatkannya di dalam urutan kronologis. Seringkali ketika individu menceritakan kisah mereka, mereka tidak menyajikannya secara kronologis urutannya. Selama proses restorying, peneliti memberikan kausal tautan antar gagasan. Demikian akan terbentuk kronologi narasi. Salah satu aspek dari kronologi adalah bahwa cerita memiliki permulaan, tengah, dan akhir. Mirip dengan elemen dasar yang ditemukan dalam novel yang bagus, aspek-aspek ini melibatkan kesulitan, konflik, atau perjuangan seorang protagonis, atau karakter utama dan urutan dengan kausalitas tersirat (misal plot).

Kronologi narasi lebih lanjut dapat terdiri dari ide-ide masa lalu, sekarang, dan masa depan berdasarkan asumsi bahwa waktu memiliki arah yang tidak lurus. Dalam pengertian yang lebih umum, kisah itu mungkin termasuk unsur-unsur lain yang biasanya ditemukan dalam novel, seperti waktu, tempat, dan adegan. Plot, atau alur cerita, mungkin juga termasuk ruang penyelidikan naratif. Penyelidikan naratif pada tiga dimensi yaitu pribadi dan sosial (interaksi) pada masa lalu, sekarang, dan masa depan (kontinuitas) dan tempat (situasi). Alur cerita ini dapat mencakup informasi tentang pengaturan atau konteks pengalaman peserta (informan).

Secara kronologi naratif, peneliti juga mungkin merinci tema yang muncul dari cerita hingga memberikan diskusi yang lebih rinci tentang makna cerita. Dengan demikian, analisis data kualitatif mungkin merupakan deskripsi baik cerita dan tema yang muncul darinya. Narasi postmodern akan menambahkan elemen lain ke analisis. Yaitu dekonstruksi cerita-cerita, yang tidak membuat kesalahan dengan analisi seperti mengekspos dikotomi, memeriksa keheningan dan kontraksi.

Kelima, berkolaborasi dengan informan. Yaitu secara aktif melibatkan mereka dalam penelitian. Saat peneliti mengumpulkan cerita, mereka menegosiasikan hubungan, memperlancar transisi, dan menyediakan cara agar bermanfaat para informan. Dalam penelitian naratif, tema utama telah berubah menjadi hubungan antara peneliti dan yang diteliti di mana keduanya akan belajar dan berubah dalam pertemuan itu. Dalam proses ini, para pihak menegosiasikan makna cerita, menambahkan validasi dan memeriksa analisis. Di dalam cerita informan mungkin juga merupakan kisah jalinan dari hasil yang diperoleh peneliti sebagai wawasan ke dalam hidupnya sendiri. Juga di dalam cerita dapat berupa epifani atau titik balik di mana alur cerita berubah arah secara dramatis. Pada akhirnya, studi naratif menceritakan kisah individu berlangsung dalam kronologi pengalaman mereka, diatur dalam pribadi mereka, dalam konteks sosial, dan historis, dan termasuk tema penting dalam pengalaman hidup itu.

Selanjutnya apa yang menjadi tantangan peneliti dalam penelitian naratif?  Mengingat prosedur ini dan karakteristik penelitian naratif, narasi penelitian adalah pendekatan yang menantang untuk digunakan. Peneliti perlu mengumpulkan informasi luas tentang peserta, dan harus jelas memahami konteks kehidupan individu. Dibutuhkan mata yang tajam untuk mengidentifikasi dalam bahan sumber mengumpulkan cerita-cerita khusus yang menangkap pengalaman individu. Diperlukan kolaborasi aktif dengan informan dan peneliti perlu mendiskusikan cerita informan serta menjadi reflektif tentang latar belakang pribadi dan politik mereka sendiri, yang membentuk bagaimana mereka hidup.  

Berbagai masalah mungkin akan muncul dalam pengumpulan, analisis, dan menceritakan kisah individu. Lalu muncul pertanyaan penting, Siapa yang memiliki cerita itu? Siapa yang bisa mengatakannya? Siapa yang bisa mengubahnya? Versi siapa yang meyakinkan? Apa yang terjadi ketika narasi bersaing? Sebagai komunitas, apa yang dilakukan cerita di antara kita? Dan mungkin akan muncul banyak pertanyaan. Selanjutnya hanya dibutuhkan kebijakan dan kepatuhan terhadap aturan main ketika memilih pendekatan naratif dalam penelitian kita. Selamat meneliti, semoga bermanfaat.

Referensi

Angrosino, M. V. (1989a). Documents of interaction: Biography, autobiography, and life history in social science perspective. Gainesville: University of Florida Press.

Clandinin, D. J. (Ed.). (2006). Handbook of narrative inquiry: Mapping a methodology. Thousand Oaks, CA: Sage.

Clandinin, D. J., & Connelly, F. M. (2000). Narrative inquiry: Experience and storyin qualitative research. San Francisco: Jossey-Bass.

Czarniawska, B. (2004). Narratives in social science research. London: Sage.

Denzin, N. K. (1989a). Interpretive biography. Newbury Park, CA: Sage.

Denzin, N. K. (1989b). Interpretive interactionism. Newbury Park, CA: Sage.

Elliot, J. (2005). Using narrative in social research: Qualitative and quantitative approaches. London: Sage.

Plummer, K. (1983). Documents of life: An introduction to the problems and literature of a humanistic method. London: George Allen & Unwin.

rumahmediagrup/Anita Kristina

One comment

Comments are closed.