Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 8

Pengagum Rahasia : Masa Indah Putih Biru – Bagian 8

Fina menatap buku bersampul hijau di depannya. Buku catatan tepatnya. Benda itu diberikan Revan tadi sore selesai kursus.

“Kamu pasti butuh buku ini. Ambillah! Ini semua catatan pentingku mengenai tenses, grammar dan segala macam hal. Anak SMP kayak kamu pasti perlu banget. Bahasa Inggris itu selain belajar tenses, harus banyak latihan listening, reading, writing, dan yang terakhir speaking. Harus diperaktekan!” kata Revan sambil menyodorkan buku seukuran buku tulis bigboss namun ini lebih tebal.

Saat itu Fina mencebik lalu memandang Revan. Sementara yang ditatapnya pergi tanpa pamit. Berlalu dengan diam. Fina akui, Revan ternyata cukup mahir dan menguasai Bahasa Inggris. Kagok juga gadis itu saat berbicara karena Revan memandangnya tak berkedip.

Tadinya Fina mau bilang jika dia tiap hari membawa payung yang diberikan Revan. Namun urung karena anak itu sudah tidak ada di hadapannya.

“Anak SMP dia bilang? Gue memang anak SMP. Lah dia juga SMP sama kayak gue,” runtuk Fina dalam hati. “Eh, bukannya dia katanya engga naik dua tahun? Berarti umurnya udah 16 tahun dong! Artinya, dia seharusnya udah kelas satu SMA.”

Dan sekarang, perlahan buku itu dibukanya diam-diam. Fina terpukau. Tulisan Revan sangat bagus,rapi, dan berstruktur. Alurnya jelas. Setiap kata, penjelasan kalimat, dan arti dibedakan dengan warna pulpen yang tidak sama. Lembar demi lembar dibukanya.

Setiap awal tulisan dan pembahasan baru selalu diawali dengan tulisan basmallah berikut hari dan tanggal saat tulisan dibuat. Fina menghitung, tanggal dan tahun di lembar pertama dilihatnya sekitar tiga tahun yang lalu. Artinya ketika itu Fina kelas lima SD dan Revan sudah SMP kelas satu. Pantas saja Revan sudah level tinggi di tempat kursus itu.

Tunggu! … Ada sesuatu yang Fina pikirkan selain buku itu.

Fina melongok keluar kamar. Aldo di kamarnya. Ayah dan ibu sepertinya sudah masuk kamar juga. Seperti biasa, setelah salat Isya dan makan malam, anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing. Fina dan Aldo biasanya mengerjakan tugas sekolah sebelum tidur.

Dikuncinya pintu kamar. Lampu kamar dimatikan lalu dinyalakannya lampu belajar yang menempel di dekat meja. Kotak sepatu dibawah tempat tidur berisi surat-surat yang diterimanya segera dibuka. Empat surat tanpa nama segera diambilnya. Sejenak, mata Fina mencari lagi satu barang yang selalu dibawanya ke sekolah.

Fina tersenyum. Barang terakhir dicarinya tersimpan rapi di belakang pintu. Lalu, dijejerkannya tiga barang yang di atas mejanya.

Payung, buku catatan Revan, dan … empat amplop surat tak bernama.

Sempurna!

Semua sama … berwarna hijau muda!
Bukan suatu kebetulan ‘kan?

Revan!

Surat-surat itu pasti dari Revan.
Fina yakin itu!

****

Keesokan harinya, Fina berangkat sekolah seperti biasa. Payung dan buku catatan Revan dibawanya. Di depan gerbang, Fina bertemu dengan Rama.

“Fin, hari ini dia masuk.”

“Siapa?”

“Siapa lagi, Revan dong!”

“Emang seminggu kemaren kemana?”

Rama memandang Fina. “Ha ha ha, ketahuan ya! Elo nyariin dia ‘kan? Diam-diam ternyata lu suka merhatiin juga,” tuding Rama sambil tertawa.

Fina memerah wajahnya. Ups!Keceplosan. Tudingan Rama betul tapi Fina tidak mau terlihat kalah.

“Dih, engga juga. Gue denger aja dari anak-anak katanya seminggu ini kelas loe tenang. Engga ada lagi yang bikin ribut. Guru-guru juga engga ada yang dibuat nangis atau ngelempar penghapus papan tulis. Bener ‘kan?” sangkal Fina.

Alasan yang dibuatnya ngaco tapi cukup masuk akal.

“Iya sih. Tau engga kemana dia ngilang seminggu kemaren? Dia kabur ke rumah neneknya di Bandung. Ayahnya tiba-tiba pulang ke rumah yang dia tempati. Revan itu sama bokapnya engga akur. Mereka sama-sama keras. Itu yang bikin Revan jadi anak yang susah diatur dan semaunya. Salah satu bentuk protes Revan sama bokapnya, dia malas belajar dan sekolah, padahal otaknya encer. Denger-denger nih, kata kakak kelas yang pernah satu angkatan, dulu tuh Revan anak yang berprestasi dan selalu rangking,” kata Rama menjelaskan.

Pantas! Kemarin pas kursus Revan sangat mahir dan fasih berbicara bahasa Inggris.

“Terus, dia kenapa berubah sekarang?”
tanya Fina serius.

“Penasaran ya?” Rama terkekeh. “Dia itu, berubah semenjak ibunya meninggal karena kecelakaan. Saat itu ibunya sedang mengandung calon adik Revan yang sangat diinginkannya sejak lama. Revan selama ini anak tunggal. Dan yang bikin down, tak lama dari kematian ibunya, bokapnya Revan nikah lagi. Nah, ini yang bikin Revan sangat benci dan berubah. Selama ini dia diurus sama pembantu dan tukang kebunnya. Ayah dan ibu tirinya tinggalnya di rumah yang lain.”

“Oh! Terus yang dibilang Aditya, ibunya suka nangis-nangis kalo dipanggil pak kepsek itu siapa?”

Rama terpekur. “Gue rasa itu Bi Nah, pembantu yang menjaganya dia di rumah. Bi Nah itu sangat sayang sama Revan. Udah kayak ibunya sendiri.”

Fina membayangkan dan merasakan apa yang dirasakan Revan atas kematian ibunya tercinta. Kehilangan yang berat.
Fina paham sekarang. Ternyata Revan tidaklah sejahat yang dipikirkan orang.

Tak terasa, Fina dan Rama sampai di depan kelas 2-8. Fina segera masuk karena Nada memanggilnya dan berbicara ketus terhadap Rama yang dianggapnya telah menggoda Fina.

Sementara itu, ada sepasang mata tajam diam membisu memperhatikan Fina dan Rama dari tadi.

-Bersambung-

Sumber pict :
Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief