SEPATU RODA DARI BAPAK

SEPATU RODA DARI BAPAK

Adikara Damar

Sebuah cerita pendek, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia Grup, oleh Adikara Damar.

Aku taruh pelan, kaca semprong yang sudah dibersihkan dari jelaga agar tidak jatuh dan pecah. Setiap sore menjelang Magrib, aku mendapat tugas membersihkan lampu teplok dan membeli minyak tanah di warung yang tidak jauh dari rumah.

“Agil,” suara bapak terdengar dari pintu samping yang tembus longkangan tempat aku biasa membersihkan lampu.

“Injih, Pak,” jawabku segera sambil bergumam, bapak ibu sudah pulang belanja dari kota rupanya.

“Ke sini sebentar, Le,” ujarnya sambil duduk di kursi rotan kesukaan, lalu mengulurkan sebuah tas kresek hitam sambil tersenyum.

“Apa ini, Pak? Kok berat?” tanyaku setelah duduk di samping bapak. Rasa penasaranku terjawab ketika barang yang ada di dalam kresek hitam itu, kukeluarkan pelan. Nampak tersembul sebuah roda karet berwarna hitam, yang membuatku terkesiap.

“Bapak, ini sepatu roda untuk saya?”

“Iyo … kamu, kan, pengen sepatu roda, to?” jawabnya sambil memperhatikan raut wajahku.

“Mahal ini, kan, Pak? Matur suwun nggih, Pak,” ujarku sambil mencium tangannya yang dijawab bapak hanya dengan senyuman.

“Yowis, sana selesaikan dulu tugasmu membersihkan lampu. Sebentar lagi Magrib,” lanjut bapak dengan nada bicara khas militernya.

“Injih, Pak,” jawabku sambil memperhatikan sepatu roda bewarna hitam di genggaman.

Bapak beranjak masuk ke dalam rumah, ketika aku mulai membersihkan lampu yang tinggal empat buah lagi. Hari mulai gelap, lampu-lampu ini harus segera dinyalakan dan diletakkan di semua ruangan seperti biasanya.

Malam itu, aku tidak bisa tidur nyenyak. Membayangkan esok pagi akan mencoba sepatu roda baruku sambil berputar-putar di halaman seberang rumah yang cukup luas. Aku tidak main sepatu roda lagi sejak Wulan, keponakanku perempuan yang umurnya dua tahun di bawahku, pindah ke Padang mengikuti orang tuanya yang bertugas di sana.

Dulu, aku meminjam sepatu roda miliknya, namun harus selalu mengalah dengan banyak orang untuk mendapat giliran. Seringkali aku hanya duduk di pinggir halaman sambil melihat mereka bermain. Kadang aku sengaja bangun pagi sekali sebelum semua orang terjaga, agar bisa bermain sepatu roda pinjaman dengan leluasa.

Rupanya selama ini bapak memperhatikanku, hingga membelikan sepatu roda baru setelah Wulan membawa sepatu miliknya pergi jauh.

BRAKK!

“Bapaak! Bapak, makasih, ya. Kok, Bapak tahu kalau aku pengen sekutel?” ujar Nisa dengan lidahnya yang masih cadel.

Aku hanya menjawab dengan senyuman sambil mengusap kepala, dan memperhatikan raut mungil gadis kecil yang baru saja menabrak kakiku dengan skuter barunya itu. Mungkin persis seperti ekspresiku 20 tahun lalu, ketika memandang wajah almarhum bapak setelah menyodorkan sepatu roda baru kepadaku.

Al Fatihah … doa terbaik untukmu, bapak. Terima kasih untuk semua kenangan dan petuah indah darimu yang takkan pernah kulupakan.

Serpong, 15 Maret 2021

(Ilustrasi: Re Reynilda with Canva Apps)